Pemetaan di Rimba Pauh Sangik
By Sefniwati
Lusa sudah memasuki bulan suci ramadhan, namun kami masih terpaku pada rimba di ujung Kecamatan Akabiluru ini Yaitu NAGARI PAUH SANGIK. Hasil Focus Grup Discussion kemaren mengharuskan saya selaku pendamping masyarakat dan beberapa orang perwakilan masyarakat Nagari Pauh Sangik untuk menyusuri rimba yang terletak tepat di belakang Kantor Wali Nagari Pauh Sangik. Pagi ini tepat pada tanggal 31 Maret 2022, saya dan Disa (rekan sesama pendamping masyarakat) menghadang dingin dengan motor matic menuju Kantor Wali Nagari Pauh Sangik. Kabut dan gigil menemani perjalanan pagi kami.
Sesampainya disana, Pak Sekna (Sekretaris Nagari) dan tim pemetaan sudah menunggu kami. Berangkatlah tim pemetaan ini dengan dua orang srikandi. Banyak yang ragu ketika mendengar yang akan masuk rimbaitu adalah perempuan. Tapi ada juga yang berdecak kagum melihat semangat kami. Saya dan disa saling lirik dan melempar senyum penuh makna. Sebelum berangkat, kami sempatkan berfoto dahulu di depan kantor wali nagari. Lalu, meluncur dengan kendaraan bermotor masing-masing menuju titik temu masuk rimba. Kami sempat mampir ke warung kelontong untuk membeli bekal minuman dan cemilan selama perjalanan nanti.

Image 1 Foto bersama sebelum melakukan pemetaan usulan HN Pauh sangik
Jalan beton selebar 3 meter diapit oleh sawah di kiri dan di kanannya, kami lalui begitu saja. Langit yang mendung menyelamatkan kami dari terik matahari. Kami memarkirkan motor di rumah terakhir dipinggir rimba. Tak lupa kami mengambil titik koordinat menggunakan aplikasi Avenza Maps. Dan ternyata masih jauh ke titik terluar areal usulan, untuk mencapai titik itu kami harus melewati areal APL yang berwarna putih di peta. Tidak mudah.
Menyusuri pematang sawah kami masuk ke ladang kakao masyarakat, hingga kami menemukan aliran anak sungai. Barulah di mulai medan tajam dan curam yang menciutkan semangat saya (hanya sedikit) dan disa sepertinya sangat kuat. Jalanan mulai menanjak, nafas saya mulai ngos-ngosan dan tentu saja Pak Jo (kepala jorong) dan kawan-kawan (masyarakat yang mendampingi saya) terlihat dengan santai melalui tanjakan itu. “Ah, hebatnya mereka” Ucap saya membatin.
Tanjakan berikutnya kami sudah memasuki barisan pinus yang sangat rapat. Batang tubuh pinus ini dipenuhi lobang memanjang bekas sadapan. Kemiringan 45% ini menbuat jantung saya bekerja lebih ekstra dari biasanya. Jalanan hanya setapak, sekali terpeleset batang pohon pinus akan senantiasa menanti dibawah. Tanah yangg diinjak pun, bukan tanah lagi, melainkan akar yang ditutupi oleh daun dan ranting pohon pinus. Sepanjang pendakian yang tak nampak ujungnya ini buah pinus berselancar indah dan sangat mudah untuk ditemui. Pohon dengan nama latin sumatran pine atau dikenal juga dengan nama pinus merkusii. Konon ditanam pada masa Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan berpuluh tahun silam. Kondisinya hari ini si Pinus pun sedang sekarat, badan nya dilubagi lebih dari 3cm. Dan getahnya dibawa berlayar ke pulau seberang.
Nafas saya kembali terengah-engah dan kami berhenti sejenak di Rumah Kampa[1] masyarakat. Saya kembali mengecek peta di aplikasi Avenza Maps dan titik saya berdiri masih berwarna putih. “Sudah sejauh ini masih putih? Hijaunya dimana??” Ucap saya membatin. Dari sini, hutan pinus telah berganti karet dan gambir yang menjulang tinggi melewati kepala saya. Saya bertanya kepada Pak Jo, “Pak, kenapa gambirnya dibiarkan saja pak?.” Biasanya setelah lebaran masyarakat kembali mangampo buk,” terang pak jo.
Saya kembali teringat dengan kisah klasik per-gambir-an ini. Primadona ekspor namun tertatih-tatih hidupnya. Apalagi hidup petani nya. Pernah pada suatu ketika gambir meroket menuju puncak di harga seratus ribu per kilonya, kampung disulap, mobil dan motor baru hilir-mudik di kampung, hingga fortuner pun mentereng di kampung. Inilah bukti dahsyatnya si hitam gambir. Kesenangan itu hanya sesaat, dua minggu setelahnya harga berangsur turun dan terus turun hingga malapiak. Petani kembali menjerit. Saya kembali tersadar ketika tanjakan berikutnya di depan mata. “Nanjak lagi?, setinggi apa puncak dari bukit kubang joniah ini?” ucap saya membatin lagi. Saya berhenti sejenak dan meneguk air mineral yang hanya tersisa sedikit saja di botol minuman saya.
Sudah tak terhitung tanjakan yang saya daki, akhirnya kami bertemu punggungan yang agak datar, waktu yang pas untuk makan siang. Apa yang membuat saya tertarik dan ingin masuk hutan? Selain pemandangan alam nan indah, sensasi makan dan tidur di hutan itulah yang bikin candu. Seperti makan siang ini, menunya standar dan biasa saja, tapi kenikmatannya melebihi restoran bintang lima. Bagaimana tidak, ada teri dan samba lado rawit, ada gulai rebung, telur rebus lengkap dengan nasi yang di bungkus daun pisang. Sangat nikmat.


Siapa sangka, di tempat kami makan siang inilah nantinya ada hadiah kecil yang akan kami bawa pulang tanpa sadar. Tak ada yang sadar kapan dan dimana hadiah tersebut menghampiri kami, kami dihadiahkan kutu babi oleh rimba pauh sangik. Per orang memperoleh dua hingga lima ekor sikujimek[1] yang disadari setelah beberapa hari kedepannya. Lucu memang hadiahnya, sakit pula. Jika dikenang, tentunya saya akan tertawa. Hahahah.
Menyusuri punggungan yang meliuk-liuk itu, kami terhenti didepan pohon besar yang tumbang. Akarnya amatlah besar, ya akarnya serabut. Menurut penuturan Pak Jo, angin kencang beberapa waktu terakhir menyebabkan pohon-pohon besar tumbang. Pohon tumbang tersebut menutup jalan yang biasa dilalui, sehingga Pak Jo harus mencari jalan memutar atau membuka jalan baru tentunya. Angin berhembus sangatlah kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Sore pun menjelang, kami masih jauh dari jalan pulang. Rimba yang hening disapa angin yang bertiup. Sesekali kami mendegar sautan burung-burung dan siamang. Sesekali kami jua menemui jejak kaki babi dan kotorannya. Yah menarik, kami mendengar suara kambing hutan sayup-sayup dari kejauhan. Memang ini arena yang sangat disukai kambing hutan, karena banyak tebing yang curam cocok sekali untuk berlarian dan melompat si kambing hutan.
Ketika petang menyingsing saya dan tim tiba di Kubang Tujuah, konon katanya dulu di tempat ini ialah kubangan badak yang sangat besar. Jika musim hujan, akan ditemui pula kubangan ini dipenuhi oleh air yang jernih. Sayangnya, ketika saya dan tim tiba ketika musim panas, maka kubangan tersebut kering dan beberapa berlumpur seperti arena kubangan babi. Kubangan ini cukup besar dan berada berdekatan. Gelap sebentar lagi akan menyapa, sedangkan saya dan tim masih terjebak di dalam rimba. Kami mempercepat langkah berharap segera menemui hutan pinus petanda titik luar sudah dekat.
Selang tak berapa lama, kami menemukan pohon yang sangat unik, akarnya sangatlah banyak dan besar, seolah-olah pohon tersebut melayang diatas akar-akarnya yang tinggi besar itu. Saya bertanya kepada Pak Jo, “Pak, ini pohon apa ya pak?” beliau menjawab, “kurang tahu juga buk, pohon ini sudah ada sejak lama dan sangatlah unik” jelasnya. Pohon unik ini dikelilingi banyak pohon-pohon besar. Kami tak berlama-lama memandangi dan berucap syukur karena dipertemukan dengan pohon-pohon besar yang kuat, lalu perjalananpun dilanjutkan.

Senja menyapa dengan hembusan angin yang dingin, tak satupun dari kami yang membawa jaket. Tidak ada sinyal, tidak ada head lamp sebagai penerang, bermodal lampu senter dari handphone saja kami susuri, bak sibuta ditengah rimba. Langkah demi langkah kami sampai di hutan pinus dengan turunan yang curam. Kaki mulai penat, beberapa kali saya dan disa meluncur menuruni bekas jalur angkut hasil getah pinus. Ketika adzan berkumandang kami dapat melihat cahaya lampu rumah warga dari kejauhan, Pak Jo menyemangati “sebentar lagi kita sampai perkampungan, buk. Pak Wali sudah siapkan makanan yang enak untuk kita buk” ucapnya. Saya hanya membalas dengan senyuman yang mungkin juga tak nampak di dalam kegelapan hutan pinus.
Kami akhirnya bebas dari gelapnya malam ketika waktu di handphone saya menunjukkan pukul 20.00 Wib. Tenaga saya berasa pulih, bergegas menuju rumah warga menjemput motor kami yang terparkir disana. Sekejap berlalu, kami sudha di kantor walinagari. Benar saja, kepulangan kami disambut dengan makanan yang sungguh sangat banyak dan nikmat. Apa yang paling saya rindukan menjadi pendamping? Jawabnya, nikmat kerja bersama masyarakat dan bersantap dengan gelak tawa. Sangat berkesan dan dirindukan.


Bagikan Artikel Ini
"Siiip...ok...semoga Web Nagari Pauh Sangik bisa menjadi sarana untuk informasi dan publikasi bagi warga baik di dalam maupun di luar Pauh Sangik....
"Tetap semangat
"Mantap